Strategi Medsos ASN Harus Adaptif, Berbasis Audiens dan Data

DEMAK – Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Firnandi Gufron, menekankan pentingnya strategi pengelolaan media sosial yang adaptif, kreatif, dan berbasis audiens dalam membangun kepercayaan publik.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Seri Webinar #157 Dewan Pengurus KORPRI Nasional “KORPRI Menyapa ASN” dengan tema “ASN Content Creators Academy: Dari Birokrasi ke FYP, Bangun Kepercayaan Publik Lewat Medsos”, yang digelar secara daring, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, konten yang efektif harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing platform serta kebutuhan audiens. Ia menjelaskan bahwa format konten ideal setidaknya mencakup tiga unsur utama, yakni hook, isi, dan call to action (CTA), agar mampu menarik perhatian sekaligus mempertahankan minat audiens hingga akhir.

“Konten harus dibuat relevan, konsisten, dan memiliki ciri khas atau persona yang kuat. Selain itu, pemanfaatan user generated content juga sangat penting karena testimoni dari pengguna cenderung lebih dipercaya”, kata Firnandi.

Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam mengunggah konten serta aktif berinteraksi dengan audiens, seperti membalas komentar maupun mengikuti tren yang sedang berkembang di media sosial.

Lebih lanjut, Firnandi membagikan sejumlah strategi praktis melalui konsep cheat sheet bagi ASN dalam mengelola media sosial. Di antaranya, memisahkan tujuan akun antara komunikasi institusi dan promosi, memahami karakter audiens melalui data dan insight platform, serta memperkuat konten visual yang autentik seperti foto dan video.

Selain itu, konsistensi branding dan penggunaan hashtag juga menjadi kunci agar pesan tetap terarah di berbagai platform. Ia juga mendorong kolaborasi dengan kreator lokal maupun komunitas yang telah memiliki kepercayaan publik.

“Pengambilan keputusan dalam pengelolaan media sosial harus berbasis data. Evaluasi secara rutin melalui analitik seperti jangkauan, interaksi, dan sentimen publik menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya,” jelasnya.

Dalam hal kolaborasi, Firnandi menyebut bahwa saat ini strategi influencer telah bergeser, dari yang sebelumnya berfokus pada mega influencer menjadi micro hingga nano influencer yang dinilai lebih efektif dan tepat sasaran. Kolaborasi juga tidak lagi sebatas endorsement, melainkan co-creation atau pembuatan konten bersama.

“Pendekatan kolaboratif ini tidak harus selalu berbasis pembayaran, tetapi bisa melalui pengalaman langsung seperti KOL trip yang memberikan nilai lebih bagi kedua belah pihak”, tambahnya.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya manajemen krisis dalam pengelolaan media sosial, mulai dari monitoring selama 24 jam, penyusunan SOP penanganan isu negatif, hingga penyampaian klarifikasi yang cepat dan berbasis data.

“Pesan yang disampaikan harus konsisten di semua platform serta melibatkan kolaborasi lintas instansi, khususnya dengan humas kementerian dan lembaga terkait”, pungkasnya. (Red-kmf/apj).