Pesan PGSI Agar Gunakan AI dengan Bijak
DEMAK - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai membawa banyak manfaat, namun juga perlu diwaspadai jika digunakan secara berlebihan, khususnya oleh anak-anak. Hal ini disampaikan oleh Ketua Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Demak, Noor Salim, Kamis (17/04/2026).
Menurutnya, AI memang mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan, tetapi jika penggunaannya tidak terkontrol hingga mengabaikan interaksi sosial, hal tersebut dapat berdampak buruk bagi perkembangan mental anak.
“AI bisa diibaratkan sebagai obat alternatif di tengah keterbatasan komunikasi anak dengan lingkungan terdekat. Kesibukan orang tua dan keterbatasan guru membuat sebagian anak mencari pelarian melalui teknologi ini”, katanya.
Ia mengingatkan bahwa AI bukanlah manusia yang memiliki empati dan perasaan. Selain itu, jawaban yang diberikan juga tidak selalu benar karena bergantung pada data yang tersedia. Ketergantungan yang berlebihan dikhawatirkan dapat memengaruhi pola pikir dan sikap anak.
“Jika digunakan tanpa batas waktu dan sampai mengabaikan lingkungan sekitar, baik orang tua, guru, maupun teman, itu tidak baik dan bisa berdampak pada kesehatan pikiran anak”, jelasnya.
Noor Salim menekankan pentingnya peran semua pihak dalam meminimalisir dampak negatif tersebut. Orang tua diharapkan lebih peka, menyediakan waktu, serta membuka ruang komunikasi dengan anak. Sementara itu, guru diminta lebih responsif terhadap tanda-tanda ketergantungan AI pada siswa dengan memberikan perhatian dan ruang dialog.
“Teman sebaya juga bisa dilibatkan sebagai tempat berbagi cerita agar anak tidak merasa sendiri”, tambahnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa AI juga memiliki banyak manfaat, terutama dalam mendukung proses belajar. Teknologi ini dapat membantu siswa menyelesaikan tugas ketika mengalami kesulitan, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
Menanggapi kasus viral di Demak terkait anak di bawah umur yang mengakhiri hidup, Noor Salim menilai kurangnya perhatian dan komunikasi dalam keluarga bisa menjadi salah satu faktor pemicu. Tekanan yang berlebihan serta pengaruh dunia maya, termasuk AI, juga dinilai dapat memperburuk kondisi psikologis anak.
“Kasus seperti itu bisa jadi merupakan dampak dari kurangnya pengawasan dan pendampingan. Anak bisa saja mencari solusi di dunia maya, termasuk melalui AI”, ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pengawasan dari orang dewasa menjadi kunci utama. Sinergi antara orang tua, guru, dan pemerintah sangat diperlukan agar penggunaan AI tetap dalam batas wajar dan tidak membahayakan perkembangan anak. (Red-kmf/apj).
